P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Wisata Budaya Magelang: Keunikan Nyadran di Candimulyo dan Makna Kuliner Sakralnya

Mengenal Budaya Magelang: Tradisi Nyadran di Candimulyo dan Makna Kuliner Sakralnya

Di tengah kehangatan dan semarak yang menyelimuti area Masjid Baituttaubah hingga ke jalanan Kampung Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terdapat sebuah tradisi unik yang kembali dilaksanakan. Ritual ini dikenal dengan nama Nyadran, sebuah warisan budaya luhur yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Pada tahun 2026, acara ini diselenggarakan pada Sabtu Kliwon (3/1/2026), mengundang perhatian warga setempat serta para perantau yang ingin kembali merasakan kekayaan budaya lokal.

Rangkaian acara tahunan ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama bagi para leluhur, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi yang mampu merekatkan seluruh lapisan masyarakat. Warga tampak beriringan membawa tenong—wadah makanan khas dari anyaman bambu—di atas kepala mereka. Prosesi ini dimulai sejak pagi hari, dengan suasana yang penuh keharmonisan dan antusiasme.

Makna Tradisi Penghormatan Makanan dan Lokasi Ritual

Tradisi Nyadran di Candimulyo lebih dari sekadar ritual doa. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada makanan dan juga sebagai sarana memperkuat hubungan antar sesama. Di atas hamparan tikar, kaum pria, wanita, hingga anak-anak duduk rapi berhadapan membelakangi wadah tenong.

“Jika ingin melakukan Nyadran, makanan yang dibawa harus menggunakan tenong dan disunggi di atas kepala. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada makanan,” ujar Vivi, warga Mejing, saat ditemui di lokasi.

Pusat kegiatan dilangsungkan di komplek Masjid Baituttaubah yang berdekatan dengan tempat pemakaman umum. Selain itu, prosesi juga diselenggarakan di Langgar Linggan, sebuah tempat bersejarah tempat KH Hasan Asy’ari (Mbah Mangli) dahulu mensyiarkan ajaran Islam.

Kuliner Ingkung Ayam Kampung dan Simbol Kebersamaan

Di tengah-tengah bentangan daun pisang yang difungsikan sebagai alas makan bersama, tersaji beragam masakan olahan rumahan yang dibawa dari dapur masing-masing warga. Menu yang disiapkan dalam wadah bambu sangat beragam, mencakup ingkung ayam kampung, olahan tempe dan tahu, mi goreng, tumis kacang panjang, telur pindang, hingga pelengkap sambal.

“Ingkung itu istilahnya wajib ada, karena nanti dimakan bersama,” kata Vivi. Olah hidangan tersebut sarat makna filosofis. Ayam ingkung menjadi simbol permohonan ampunan serta pengingat hamba kepada Sang Pencipta. Sementara itu, variasi lauk-pauk lainnya menyimbolkan rezeki serta nilai kebersamaan tanpa sekat status sosial.

Pesta Rakyat dan Santap Bersama Lintas Generasi

Momen sakral terasa ketika ratusan warga menengadahkan tangan memanjatkan doa khusyuk yang dipimpin oleh tokoh agama setempat untuk keselamatan dan keberkahan desa. Begitu doa selesai dipanjatkan, penutup tenong pun dibuka. Makanan dibagikan secara terbuka tanpa sekat kepemilikan. Setiap warga dan pengunjung bebas menikmati santapan dari tenong manapun.

“Nyadran ini momen langka karena semua bisa kumpul. Yang merantau biasanya pulang, yang jarang ketemu bisa duduk bareng,” kata Samsul, warga lainnya. Arak-arakan warga berbaju muslim dan bersarung sambil menyunggi tenong menjadi daya tarik visual tersendiri di sepanjang jalan desa. Tak sekadar ritual adat, momentum ini bertransformasi menjadi pesta rakyat yang ramah keluarga.

Pelestarian Adat di Tengah Modernisasi

Di tengah gempuran tren serba instan, masyarakat Candimulyo tetap teguh menjaga keaslian tradisi Nyadran lewat spirit gotong royong dan kesederhanaan. “Sekarang zaman memang sudah berubah, tapi Nyadran jangan sampai ikut hilang,” ujar Samsul. Ia menjelaskan, pelaksanaan Nyadran di desanya dilakukan pada bulan Rajab dalam penanggalan Jawa, tepatnya pada pasaran Kliwon antara tanggal 10 hingga 15 Rajab.

“Pokoknya harinya dicari pasaran Kliwon di atas tanggal 10 dan di bawah tanggal 15 Rajab,” tutupnya.

0

Posting Komentar