P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Diversifikasi Wisata NTB Tarik Wisatawan Timur Tengah

Diversifikasi Wisata NTB Tarik Wisatawan Timur Tengah

Ketergantungan pada Atraksi Pantai Belum Cukup untuk Menarik Wisatawan Timur Tengah

Ketergantungan hanya pada atraksi pantai saja dinilai belum cukup untuk membuat wisatawan asal Timur Tengah tinggal lebih lama di Nusa Tenggara Barat (NTB). Diversifikasi atraksi wisata menjadi semakin penting, terutama dalam menjangkau karakter wisatawan mancanegara yang memiliki preferensi berbeda-beda. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, saat memimpin pertemuan dengan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan jajaran mitra kerja di Kantor Gubernur NTB, Kota Mataram, Selasa (11/8/2026) petang.

Chusnunia menilai bahwa NTB memiliki prospek besar dalam pengembangan sektor pariwisata nasional. Pertumbuhan pariwisata di daerah ini mencatatkan angka yang signifikan dalam empat tahun terakhir, sehingga menjadi penyangga pariwisata nasional selain Bali. Keberadaan kawasan Mandalika dinilai memberikan efek domino positif terhadap pertumbuhan pariwisata secara keseluruhan.

Pariwisata NTB Jadi Penyangga Nasional

"Stressing kita salah satunya adalah pariwisata, dimana terutama empat tahun terakhir pertumbuhan pariwisata di NTB ini signifikan, dan ini menjadi penyangga pariwisata nasional selain Bali," ujar Chusnunia.

NTB memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata. Selain letaknya yang berdekatan dengan Bali, NTB memiliki karakter destinasi yang beragam, mulai dari kawasan pantai, pegunungan, hingga destinasi dengan udara yang lebih sejuk. Keberadaan kawasan Mandalika juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata di NTB.

Variasi Atraksi Kunci Dongkrak Lama Tinggal dan Belanja Wisatawan

Komisi VII DPR RI menyoroti pentingnya penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari ekosistem pariwisata NTB. Chusnunia menilai bahwa pertumbuhan pariwisata harus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal, terutama melalui peningkatan lama tinggal (length of stay) serta jumlah belanja atau spending wisatawan selama berada di NTB.

Menurutnya, upaya meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan harus dibarengi dengan penyediaan atraksi serta pengalaman wisata yang lebih beragam. Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan kegiatan selama berada di NTB, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi UMKM untuk memperoleh manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.

"Ketika kita mau dorong angka stay, kita mau dorong angka spending-nya lebih banyak, mesti kita banyak jualan, variasi hiburannya apa. Nah, nanti variasi hiburan mendorong angka stay, mendorong konsumsi di UMKM, itu satu sama lain, angkanya saling terkait," jelas Chusnunia.

Wisatawan Timur Tengah Butuh Atraksi di Luar Pantai

Chusnunia menambahkan bahwa diversifikasi atraksi wisata menjadi semakin penting untuk menjangkau karakter wisatawan mancanegara yang berbeda-beda. Salah satu kelompok wisatawan yang menjadi perhatian khusus adalah wisatawan asal Timur Tengah, yang menurutnya tidak sepenuhnya memiliki ketertarikan tinggi terhadap wisata pantai sehingga membutuhkan pilihan atraksi yang berbeda.

"Jadi kita dorong variasi yang bisa ditawarkan untuk wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, khususnya mancanegara. Karena kalau lokal itu justru semakin senang, kuliner semakin banyak, mereka makin senang. Mancanegara ini agak sesuai background-nya," katanya.

Ia mencontohkan bahwa ketergantungan pada atraksi pantai saja dinilai belum cukup untuk menarik sekaligus membuat wisatawan asal Timur Tengah tinggal lebih lama di NTB.

"Tadi keluhannya yang Timur Tengah, kita belum bisa banyak kasih variasi atraksi," ungkapnya.

Dorong Kementerian Pariwisata Lebih Hadir, Tak Melulu Soal APBN

Komisi VII mendorong agar Kementerian Pariwisata dapat lebih hadir dalam membantu pemerintah daerah mengatasi berbagai persoalan pengembangan destinasi wisata di NTB. Menurut Chusnunia, dukungan tersebut tidak harus selalu berbentuk alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tetapi juga dapat dilakukan dengan mendorong masuknya investasi ke daerah.

"Jadi misalkan persoalan yang dihadapi Pemprov NTB hari ini, Kementerian Pariwisata bisa hadir. Misalkan tidak ada APBN pun mendatangkan investasi misalnya, jadi bareng-bareng untuk menyelesaikan persoalan," pungkasnya.

Gubernur NTB menyampaikan sejumlah aspirasi dan persoalan yang dihadapi daerah, salah satunya berkaitan dengan penyelenggaraan MotoGP di Mandalika. Chusnunia menjelaskan bahwa persoalan yang muncul berkaitan dengan persaingan penyelenggaraan ajang olahraga internasional antarnegara, sehingga membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah pusat.

"Ini akan beberapa persoalan-persoalan teknis, yang bukan sekadar teknis sebenarnya, karena ini mungkin ada persaingan antarnegara. Mungkin ini butuh atensi lebih dari pemerintah pusat," jelasnya.


0

Posting Komentar