P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Jejak Kelahiran, Kenangan, dan Rasa: Perjalanan Pulang ke Denpasar yang Menghidupkan Memori dan Kuliner Legendaris

Featured Image

Perjalanan Nostalgia ke Kota Kelahiran: Denpasar dalam Pandangan Melki

Perjalanan kembali ke kota kelahiran selalu membawa perasaan yang kompleks. Ada rasa hangat, haru, rindu, dan bahagia yang saling bersatu. Denpasar, ibu kota Pulau Bali, menjadi tempat di mana kenangan masa kecil bertemu dengan pesona kuliner yang tak pernah memudar. Bagi banyak orang, Bali adalah destinasi impian. Namun bagi Melki, sosok di balik kanal YouTube Rumah Canda Melki, Bali adalah rumah pertama—sebuah tempat yang memberinya fondasi hidup, mengisi memorinya, dan menyimpan jejak masa kecil yang kini ia ajak penonton untuk mengulangnya kembali.

Dalam episode “Jalan-Jalan ~ Di Kota Kelahiran… DENPASAR”, Melki menyusuri lorong waktu—dari rumah masa kecilnya di Jalan Trijata, sekolah tempat ia menghabiskan hari-hari polos, hingga warung-warung legendaris yang telah mewarnai tumbuh kembang banyak generasi. Petualangan ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga eksplorasi betapa kayanya kuliner Denpasar; mulai dari sup kepala ikan klasik yang tak berubah sejak 1941, hingga rujak kuah cuka yang mengguncang lidah dengan sensasi manis, pedas, dan asam yang tak terlupakan.

Menyusuri Jalan Trijata: Mencari Rumah Masa Kecil yang Kini Telah Berubah Wajah

Melki memulai perjalanan dengan mendatangi Jalan Trijata, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Perjalanannya penuh kejutan—rumah yang ia ingat ternyata sudah berubah menjadi kantor, dan banyak bangunan di sekitar pun telah berganti wajah menjadi hotel atau bangunan baru. Ia bahkan harus menelepon sang ibu dan kakak untuk memastikan lokasi tepatnya. Namun ketika akhirnya menemukan rumah lamanya, suasana haru tak terhindarkan. Kenangan masa kecil muncul perlahan—mulai dari komplek lama, nomor rumah yang samar-samar diingat, hingga interaksi kecil dengan warga sekitar yang menyambutnya dengan ramah. Momen ini menjadi bukti bahwa meski waktu mengubah tempat, ia tak mampu menghapus jejak rasa di hati.

Warung Mak Beng – Kuliner Legendaris Sejak 1941 dengan Menu yang Tak Pernah Berubah

Perhentian pertama dalam petualangan rasa adalah Warung Mak Beng, salah satu ikon kuliner Sanur yang berdiri sejak tahun 1941. Tempat ini terkenal karena hanya menyajikan satu paket menu, yakni nasi putih, sup kepala ikan, dan ikan goreng bumbu khas. Tidak ada menu lain. Tidak ada tambahan yang aneh-aneh. Keaslian rasa menjadi kunci. Sup kepala ikan yang hangat, sambal merah khas Mak Beng yang pedas menggigit, dan ikan goreng GT (giant trevally) yang renyah membuat menu sederhana ini menjadi legenda. Bahkan sejak Melki kecil hingga kini ia punya buah hati, rasa Mak Beng tetap sama—sebuah kontinuitas rasa yang langka ditemukan. Datang pagi adalah pilihan terbaik, sebab saat siang atau musim liburan, antreannya mengular.

Menyapa Masa Sekolah: Kunjungan ke SD Swastiastu (Kini Santo Yosef)

Masih dalam rangka nostalgia, Melki singgah ke sekolah dasar tempat ia pernah menghabiskan masa kecil: SD Swastiastu, yang kini telah berubah nama menjadi SD Santo Yosef. Ia mengenang halaman bermain, pohon tempatnya sering mengambil nektar manis, hingga lorong-lorong sekolah yang membuat ingatan indah bermunculan. Perjalanan singkat ini menunjukkan bahwa kenangan sekolah adalah bagian tak terpisahkan dari identitas seseorang—sekecil apa pun momen itu.

Gigi Susu & Kopi Kekinian – Denpasar yang Bergerak Maju Tanpa Meninggalkan Cita Rasa Lokal

Di tengah perjalanan nostalgia, Melki mampir ke sebuah kedai kopi kekinian yang sedang viral: Gigi Susu. Tempat ini menjadi bukti bahwa Denpasar terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tren modern, tanpa kehilangan esensinya sebagai kota kuliner yang dinamis. Aneka minuman latte, camilan modern, hingga antrean pengunjung menjadi kontras yang menarik dengan suasana klasik warung-warung tuanya.

Paon Dwaji – Bebek Guling Halal yang Fresh dan Dibuat Utuh

Destinasi kuliner berikutnya adalah Paon Dwaji, yang dahulu dikenal sebagai hidden gem namun kini sudah pindah ke tempat yang lebih mudah dijangkau. Sajian andalannya adalah bebek guling halal dan ayam guling yang dimasak utuh. Untuk menikmati versi utuhnya, pengunjung harus memesan sehari sebelumnya. Melki meminta bebek guling yang baru matang—hasilnya luar biasa, yakni kulit crispy, daging juicy, sambal matah segar, sambal rajang yang menggigit aroma daun singkong dan rempah yang dimasukkan selama proses penggulingan. Lemak bebek yang meleleh, ditambah sambal matah yang wangi, membuat menu ini cocok disantap ramai-ramai. Porsinya bahkan cukup untuk empat orang.

Gula Bali – Surga Rujak Kuah Cuka dan Cemilan Tradisional Bali

Sore hari, Melki menuju tempat favoritnya: Gula Bali, rumah makan yang menyajikan beragam jajanan tradisional hingga rujak khas Bali. Di sini ia mencicipi kue Laklak yang lembut dengan gula merah, rujak rambutan kuah cuka, dan es daluman. Menu rujak kuah cuka menjadi bintang utama—paduan pedas, asam, segar, dan manis alami dari rambutan membuatnya berkeringat puas. Rasa khas ini jarang ditemui di luar Bali, sehingga menjadikannya salah satu kuliner wajib coba saat berada di Denpasar. Bagi Melki, rujak Bali adalah makanan kesukaan nomor satu sejak kecil, dan kunjungan ini menjadi puncak rasa dari perjalanan hari itu.

Denpasar, Rumah yang Selalu Menyimpan Rindu dan Rasa
Episode perjalanan ini menunjukkan bahwa Denpasar bukan sekadar kota wisata, melainkan tempat yang menyimpan memori, budaya, dan rasa yang sulit tergantikan. Dari rumah masa kecil yang penuh nostalgia, warung-warung yang menjaga resep puluhan tahun, hingga kuliner modern yang meramaikan kota—semuanya menjadi bagian dari mozaik kehidupan Bali yang hangat dan berkesan. Bagi Melki, kembali ke Denpasar adalah perjalanan pulang. Dan bagi kita semua, Bali selalu menjadi tempat di mana keindahan alam berpadu dengan kekuatan budaya, sementara kuliner menjembatani masa lalu dengan masa kini dalam satu pengalaman penuh rasa.

Posting Komentar

Posting Komentar