P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Aktivitas Tambang Ancam Keberlangsungan Wisata Hiu Paus di Teluk Gorontalo

Featured Image

Ancaman Tambang terhadap Wisata Hiu Paus di Botubarani

Aktivitas tambang yang berlangsung di perbukitan sekitar Desa Botubarani menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian wisata hiu paus di kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo. Abdul Wahab Matoka, warga setempat dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, menceritakan pengalamannya saat material dari aktivitas tambang menghancurkan lokasi wisata hiu paus pada tahun 2024.

“Saya menyaksikan sendiri, berada di lokasi saat banjir yang membawa batuan, kayu dan lumpur menghantam wisata hiu paus,” ujarnya. Cerita ini disampaikan dalam presentasi kajian pengelolaan tambang mineral bukan logam dan dampaknya terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo.

Banjir Material Rusak Pos Wisata

Banjir yang dibawa oleh material tambang tidak hanya merusak lokasi wisata, tetapi juga menghancurkan bangunan pos wisata di lorong tiga yang terbuat dari kayu. Lumpur dan batu terseret air bergemuruh turun dari sisi atas Dusun Tamboo Barat menuju pantai, melewati sungai yang penuh sedimen sebelum tumpah di perairan Botubarani yang masuk kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo.

Untuk mengatasi limpahan material ini, para pelaku wisata melakukan gotong royong dengan menyewa alat berat untuk membersihkan lokasi. “Sekitar sepekan setelah banjir hiu paus tidak muncul,” kata Abdul Wahab Matoka. Ketidakmunculan ikan raksasa ini berarti kerugian bagi nelayan dan pelaku wisata di desa ini, mereka menganggur dan mengisi hari-hari dengan menata kembali tempat wisata ini.

Diduga Berasal dari Aktivitas Tambang

Cerita pelaku wisata ini merupakan ancaman nyata akibat aktivitas tambang batu di sisi atas Desa Botubarani. Ketua tim peneliti Raghel Yunginger dalam paparan kajiannya mengungkapkan bahwa tambang batuan ini berdampak langsung terhadap lingkungan karena mengakibatkan sekitar 1,7 km sungai terdampak sedimentasi. Sebagian besar segmen sungai yang mengalami sedimentasi berada pada jarak sekitar 100 meter dari titik bukaan lahan utama.

“Tebing dengan pelapukan batuan yang menghasilkan material lepas, tidak kompak (unconsolidated), dan ini dapat memicu gerakan tanah saat curah hujan dan mudah terbawa aliran air hujan,” tutur Raghel.

Manfaat Ekonomi Ada, Tapi Terbatas

Raghel juga mengakui bahwa keberadaan tambang memberi manfaat kesempatan kerja lokal, kenaikan pendapatan masyarakat, dan tumbuhnya usaha jasa pendukung. Namun riset ini juga mencatat dampak sosial ekonomi. Aktivitas tambang mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi seperti lahan pertanian atau air irigasi. Di sisi lain, masyarakat belum memiliki ketergantungan ekonomi terhadap tambang. Sebagian besar masih bergantung pada sektor pertanian, nelayan, atau jasa informal.

Aktivitas tambang belum secara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada sektor kesehatan, masyarakat menilai aktivitas tambang memiliki potensi risiko kesehatan, tetapi dampaknya belum meluas secara signifikan, terutama debu atau limbah tambang yang menyebabkan gangguan pernapasan.

Konflik Horizontal dan Vertikal Mulai Muncul

Konflik horizontal dan vertikal mulai muncul di sekitar wilayah tambang, terutama terkait batas kepemilikan lahan, kompensasi, serta pembagian manfaat ekonomi.

Tenaga Kerja Lokal Belum Banyak Terserap

Pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke tambang belum terjadi masif. Sektor tambang belum mampu menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan. Masyarakat masih lebih banyak bekerja di sektor tradisional.

“Tambang sedikit banyak membuka peluang kerja bagi sebagian penduduk lokal. Namun demikian, peluang tersebut lebih banyak bersifat sementara, informal, atau terbatas pada pekerjaan kasar seperti pengangkut dan sopir truk,” ungkap Raghel.

Yang juga direkam dari proses riset ini adalah masyarakat belum merasakan efek pengganda (multiplier effect) dari keberadaan tambang, seperti berkembangnya warung, penginapan, atau jasa transportasi.

Tanggapan Pemerintah Daerah

Pada forum ilmiah yang dimoderatori Tity Iriani Datau, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapppeda Provinsi Gorontalo, hadir sejumlah pemangku kepentingan. Kepala Bapppeda Wahyudin A Katili mengharapkan kajian yang detail dari berbagai aspek ini dapat menghasilkan rekomendasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan pemerintah.

“Kami berharap para peneliti lebih berani bersikap dan merekomendasikan ke pemerintah agar hasil kajian ini dapat segera diimplementasikan. Gubernur Gusnar Ismail dan Wagub Idah Syahidah sudah menegaskan bahwa riset yang dilaksanakan harus implementatif yang memberi manfaat kepada masyarakat,” ujar Wahyudin.

Dalam riset ini, selain Raghel Yunginger, juga terdapat peneliti Sri Sutarni Arifin, Ivana Butolo, Ayub Pratama Aris, dan Rezkiawan Tantawi.

Posting Komentar

Posting Komentar