P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Menteri Pariwisata Dorong Festival Golo Koe Tingkatkan Wisata Labuan Bajo


Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan kembali menjadi pusat perhatian pada tahun 2026 dengan penyelenggaraan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara. Acara ini akan berlangsung di Marina Waterfront Labuan Bajo dari tanggal 10 hingga 15 Agustus 2026. Festival yang masuk dalam daftar Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini menunjukkan bahwa Labuan Bajo sedang mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan masyarakat lokal.

Festival Golo Koe kali ini dipimpin langsung oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Dengan tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”, acara ini menjadi penyelenggaraan kelima sekaligus yang ketiga masuk dalam agenda KEN. Menurut Widiyanti, festival ini membuktikan bahwa pengembangan pariwisata tidak harus melupakan nilai-nilai tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.

“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Ia juga menyebut bahwa festival ini memberikan pengalaman yang lebih utuh bagi wisatawan sambil membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam memperkenalkan identitas Labuan Bajo.

Dampak ekonomi dari festival ini semakin nyata. Pada penyelenggaraan tahun lalu, festival ini berhasil menarik lebih dari 45.000 wisatawan, melibatkan 173 UMKM, 883 pekerja seni, dan 1.473 tenaga kerja, serta menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp2,82 miliar. Tahun ini, sebanyak 160 UMKM kembali ambil bagian dengan menawarkan produk lokal, kuliner, dan berbagai karya ekonomi kreatif.

Widiyanti menekankan bahwa festival ini adalah contoh pariwisata berkualitas, di mana pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal. Festival Golo Koe tidak hanya menghadirkan kegiatan keagamaan, tetapi juga seni, budaya, ekonomi kreatif, pendidikan, kegiatan ekologis, dan aktivitas sosial. Perpaduan tersebut menjadikan kawasan pesisir Labuan Bajo sebagai ruang perjumpaan antara wisatawan dan kehidupan masyarakat Manggarai.

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menilai festival ini menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan di tengah perkembangan pariwisata. Menurutnya, festival ini merupakan bagian dari promosi kepariwisataan daerah sekaligus motor penggerak bagi nilai-nilai keberlanjutan ekologis dan kehidupan di Labuan Bajo.

Ia menekankan pentingnya menjaga keindahan Labuan Bajo sebagai aset bersama. Perkembangan pariwisata harus tetap memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, termasuk kelompok yang belum sepenuhnya menikmati laju pembangunan.

Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng menambahkan bahwa penyelenggaraan Festival Golo Koe merupakan hasil kolaborasi antara Keuskupan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Festival ini secara konsisten digelar setiap 10–15 Agustus dan mencakup kegiatan keagamaan, ekologis, pendidikan, sosial, serta kebudayaan.

Dukungan juga diberikan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Plt. Direktur Utama BPOLBF Andhy M.T. Marpaung menilai festival tersebut memperkaya pengalaman wisatawan karena mempertemukan mereka secara langsung dengan budaya, seni, produk lokal, dan kehidupan masyarakat. Menurutnya, kehadiran 160 UMKM tahun ini menjadi salah satu jalur langsung untuk memperluas manfaat ekonomi pariwisata kepada masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Dengan konsistensi penyelenggaraan dan masuknya Festival Golo Koe ke dalam agenda KEN, pemerintah berharap event tersebut dapat terus memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya serta manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Posting Komentar

Posting Komentar