
Ruang yang Menghidupkan Warisan Budaya
Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono yang berada di Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda pusaka. Di sini, keris tidak dianggap sebagai benda mati, melainkan sebagai warisan hidup yang masih terus dibuat dan dirawat seperti ratusan tahun lalu. Tempat pembuatan keris disebut besalen—sebuah ruang yang bukan hanya menjadi lokasi kerja, tetapi juga ruang spiritual.
“Besalen itu dapur atau tempat pembuatan keris, tapi bagi kami itu ruang spiritual,” kata Prisma Dwi Pratiwi, salah satu edukator. Di ruang berpijar api dan suara palu itu, para Empu, panjak, dan asisten pembakar logam bekerja dalam ritme yang seperti ritual, bukan sekadar pekerjaan teknis.
Jejak Sejarah dan Identitas Ruang
Dibangun sebagai ruang pelestarian budaya, museum ini tidak hanya menampilkan deretan keris pusaka, namun juga pengetahuan seputar filosofi, fungsi, dan jejak sejarahnya dalam kehidupan masyarakat Jawa. Koleksinya sangat beragam, mulai dari keris lurus hingga keris berluk, dari pamor meteorit hingga besi lipat yang berasal dari proses tempa berulang. Setiap keris menyimpan arti, mulai dari simbol perlindungan, kewibawaan, hingga doa panjang yang menyertai kehidupan pemiliknya.
Ketika Logam Dipertemukan dengan Kesabaran
Proses pembuatan keris di Brojobuwono dimulai dengan ritual wiwitan atau selamatan. Dalam ritual ini terdapat tumpeng, ingkung ayam, jajanan pasar, hingga hasil bumi yang disandingkan dengan bahan logam seperti besi, baja, dan nikel. Penentuan waktu pembuatan juga tidak sembarangan. “Waktu pengerjaan melihat weton pemesan dan tuah kerisnya,” jelas Prisma.
Begitu prosesi selesai, bahan logam dibawa kirab menuju besalen. Di sini terdapat tiga sosok penting dalam proses pembuatan: empu sebagai pencipta utama, panjak sebagai penempa, dan Sokabat sebagai asisten empu yang bertugas mengendalikan api. Suasana besalen tidak hanya dipenuhi suara logam bertemu palu, tetapi juga kesunyian yang dihormati sebagai bagian lelaku spiritual.
Proses Pembuatan yang Memakan Waktu
Tahap penempaan berlangsung lama. Logam dipanaskan hingga berpijar, lalu ditempa berulang hingga besi dan nikel menyatu membentuk calon pamor. Baja kemudian disisipkan sebagai inti ketajaman bilah. Bilah dipanjangkan dan dibentuk lekukan jika keris berluk. Semua dilakukan dengan ketelitian tinggi. Prisma menambahkan, “Prosesnya bisa enam bulan, bahkan ada yang sampai satu tahun. Karena yang dibuat bukan sekadar benda.”
Setelah tempa selesai, pembentukan detail ricikan seperti kembang kacang, sogokan, gandhik, hingga pesi dilakukan dengan kikir atau mesin gerinda. Tahap ini disebut pembentukan dingin, karena proses pemolesan dilakukan tanpa api, tetapi dengan ketelitian pandangan dan rasa seorang empu.
Tahapan Finishing yang Menjadi Puncak Proses
Finishing keris melalui tiga tahapan. Pertama, sangkling, yaitu proses menghaluskan permukaan bilah dengan batu asah untuk menghilangkan guratan dan menyempurnakan bentuk. Kedua, kamalan, di mana bilah dimasukkan ke campuran lumpur, garam, dan belerang selama satu malam agar tekstur pamor muncul jelas. Terakhir, pewarangan, yaitu pencelupan dalam larutan warangan untuk menegaskan warna hitam pada besi dan putih pada pamor.
Setelahnya, minyak keris dioleskan agar bilah tidak berkarat. Keris yang telah lahir kemudian diwadahi dengan warangka dari bahan berkualitas seperti kayu jati, sawo, timoho, atau bahkan gading. Harga satu keris bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung bahan, teknik, dan filosofi pembuatannya. “Yang dihargai bukan hanya bentuk, tetapi perjalanan, waktu, dan maknanya,” ujar Prisma.
Makna Budaya yang Tidak Pernah Padam
Keris sejak dahulu bukan hanya senjata, tetapi identitas, doa, dan simbol kedudukan sosial. Terdapat keris Tubo, keris yang pada masa perang diolesi racun agar mematikan ketika digunakan. Hari ini keris lebih banyak difungsikan sebagai pusaka, koleksi budaya, dan pelengkap upacara adat seperti pernikahan Jawa. Proses perawatan dilakukan setahun sekali melalui jamasan, dan bila pamornya memudar, dilakukan pewarangan ulang.
Warisan yang Menyentuh Banyak Masa Depan
Museum dan padepokan ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, tetapi juga peneliti, kolektor, hingga wisatawan mancanegara yang ingin belajar langsung proses pembuatannya. Banyak dari mereka yang tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk memahami.
Warisan budaya seperti keris memiliki potensi besar untuk masuk ke ruang-ruang modern: film dokumenter, seni rupa kontemporer, pariwisata edukatif, hingga ekonomi kreatif berbasis warisan. Pengalaman membuat keris dapat dihadirkan sebagai program workshop eksklusif, sementara kisah di balik prosesnya dapat menjadi karya dokumenter atau serial budaya yang kaya secara sinematik.
Di zaman serba cepat, Brojobuwono justru menawarkan kebalikan: kesabaran, ketelitian, dan penghormatan terhadap proses. Di tempat ini, logam tidak hanya tempa menjadi senjata, tetapi menjadi ingatan. Dan keris bukan lagi hanya pusaka, melainkan jejak identitas yang terus dilanjutkan.
.png)


Posting Komentar