P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Wisatawan Kecewa, Angkot Tanjungpinang Dibatasi, Walikota Janjikan Perbaikan 2026

Wisatawan Kecewa, Angkot Tanjungpinang Dibatasi, Walikota Janjikan Perbaikan 2026

Masalah Transportasi Umum di Kota Tanjungpinang yang Mengganggu Pengalaman Wisatawan

Kota Tanjungpinang, yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sedang menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan transportasi umum. Minimnya jumlah angkutan umum serta jadwal operasional yang tidak teratur menjadi keluhan utama bagi wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Hal ini memengaruhi pengalaman mereka selama berada di daerah tersebut.

Salah satu wisatawan lokal asal Jawa Tengah, Puput (27 tahun), mengaku bahwa selama tiga hari tinggal di Tanjungpinang, dirinya jarang melakukan perjalanan keluar hotel. “Saya lebih suka menghabiskan waktu di hotel karena transportasi umum kurang memadai,” ujarnya. Puput juga menyebutkan bahwa ia hanya pernah naik angkot sekali untuk melihat kondisi kota. Namun, ia merasa bosan karena angkot yang digunakan sudah tua dan jalanannya lambat.

Selain Puput, wisatawan lain dari Yogyakarta, Dani, juga mengeluh tentang keterbatasan transportasi umum. Ia mengungkapkan bahwa meski lebih suka menggunakan angkot dibanding ojek online, namun ketersediaannya sangat terbatas. “Di Yogyakarta saya biasa menggunakan ojek online, tapi di sini sulit menemukan angkot,” katanya. Selain itu, dia juga mengeluhkan kesulitan dalam memesan ojek online, terutama saat jam sibuk. “Harus mencoba dua kali baru bisa terhubung,” tambahnya.

Dani juga menyampaikan harapan kepada pemerintah setempat agar dapat melakukan revitalisasi angkot yang sudah usang. Menurutnya, transportasi yang lancar merupakan salah satu faktor penting dalam menarik wisatawan. Selain itu, ia menilai biaya transportasi daring di Tanjungpinang tergolong mahal, mungkin karena letak geografis wilayah yang cukup jauh dari pusat kota.

Dari sisi pengemudi ojek online, banyak dari mereka mengaku mendapat pesanan yang cukup banyak pada akhir pekan. Salah satu pengemudi yang enggan menyebutkan nama mengatakan bahwa permintaan penumpang meningkat di malam hari. “Angkutan umum biasanya tidak beroperasi di malam hari, sehingga wisatawan lebih memilih menggunakan jasa kami,” ujarnya. Ia mengaku bisa membawa pulang antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari jika rajin bekerja.

Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengakui adanya keterbatasan transportasi umum di kota ini. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang merancang solusi untuk mengatasi masalah ini dan akan diterapkan pada tahun 2026. “Masalah ini sudah menjadi perhatian serius kami,” ujarnya. Ia berharap rencana pembenahan transportasi umum bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun wisatawan.

Faktor Penyebab Keterbatasan Transportasi Umum

Beberapa faktor dapat menjadi penyebab keterbatasan transportasi umum di Tanjungpinang, antara lain:

  • Usia armada angkot yang sudah tua, sehingga tidak nyaman digunakan.
  • Jadwal operasional yang tidak teratur, membuat wisatawan kesulitan dalam merencanakan perjalanan.
  • Kurangnya investasi pemerintah dalam pengembangan transportasi umum.
  • Biaya operasional yang tinggi, yang berdampak pada harga layanan yang mahal.

Solusi yang Diharapkan

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa solusi yang diharapkan oleh wisatawan dan masyarakat antara lain:

  • Revitalisasi armada angkot agar lebih modern dan nyaman.
  • Peningkatan jumlah angkot yang beroperasi di kota.
  • Penyusunan jadwal operasional yang lebih teratur agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.
  • Peningkatan aksesibilitas transportasi di area pariwisata dan pusat kota.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan pengalaman wisatawan di Tanjungpinang akan semakin baik dan memperkuat daya tarik kota ini sebagai destinasi wisata.

0

Posting Komentar